Seorang guru yang mengajar di madrasah yang sama dengan saya bercerita, bahwa ada PNS saat ini justru menjadi anggota dari organisasi yang jelas-jelas anti Pancasila dan NKRI. Ia menyebut temannya sendiri. Bahkan ketika bercerita sama saya, ia masih sms-an sama temannya itu, mengkonfirmasi ulang apakah ia masih aktif di organisasi yang menolak Pancasila setelah diangkat PNS? Jawabnya ternyata ya.
Ketika saya tanya sama guru yang mengajar di sekolah negeri, ternyata di beberapa sekolah juga serupa. Menurut teman saya yang juga kebetulan PNS, di sekolah tempat ia mengajar, ada juga guru PNS yang aktif di organisasi anti Pancasila dan NKRI. Saya mencoba terus menyisir data. Ternyata di daerah saya, PNS yang aktif di organisasi anti Pancasila dan NKRI, sudah mulai merasuk ke pelosok, termasuk ke kepulauan.
Suatu hari saya menulis status iseng di group facebook, “setujukah Anda sama PNS yang aktif di organisasi anti Pancasila dan NKRI, sementara ia memperoleh gaji dari sini?”
Namanya facebooker, bukan serius menjawab malah di suruh “deportasi”. Ada yang bilang suruh dipecat. Tapi hampir semua facebooker yang menulis komentar sepakat, menolak PNS yang terlibat di organisasi anti-Pancasila dan NKRI.
Saya menghubungkan dengan gaji mereka, karena saya tahu rata-rata mereka ketika kampanye penolakan terhadap Pancasila dan NKRI seringkali mengunakan rujukan Al-Qur’an-Hadits. Tetapi mereka lupa, bahwa gaji yang mereka peroleh justru dari system yang mereka tolak. Aneh luar biasa. Yang bahaya menurut saya, justru dari gaji yang mereka peroleh sebagian mereka gunakan untuk mengkampanyekan terus gerakan anti Pancasila dan NKRI.
Masalah yang Lebih Serius
Yang membuat saya prihatin, PNS yang aktif di organisasi anti Pancasila dan NKRI berprofesi sebagai guru. Dan saya percaya, ketika melangsungkan proses pembelajaran mereka tidak sekedar menyampaikan mata pelajaran yang diampuhnya, tetapi juga menyelipkan ideologinya. Apalagi guru penentang Pancasila dan NKRI ini memang guru Agama. Makin leluasa dia dalam menyelipkan dan menanamkan ideologinya kepada siswa dasar dan menengah.
Jangankan menjadi guru agama, memegang materi “ umum” pun tidak menutup peluang bagi mereka untuk menanamkan ideologinya. Pernah sebuah madrasah swasta di daerah saya dengan tegas mengembalikan guru bantu Bahasa Inggris ke kemenag, karena guru tersebut ternyata tidak mengajarkan bahasa inggris, tapi di kelas malah lebih banyak menanamkan ideologinya yang berseberangan dengan paham moderat yang dianut madrasah tadi. Untunglah ada madrasah yang tegas. Tetapi bagaimana dengan sekolah dan madrasah negeri/swasta lainnya yang tidak tegas?
Bagi saya masalah ini cukup serius. Saya tidak pernah membayangkan, kalau kasus ini terus berlangsung dan semakin besar, bukan tidak mungkin suatu saat, Pancasila dan NKRI justru ditikam dari ruang kelas. Nasionalisme dan kecintaan terhadap kebangsaan justru mati di lembaga pendidikan yang sejatinya harus menjadi jangkar. Korbannya justru anak-anak dan remaja yang kita harapkan menjadi bangsa ini dimasa depan. Dan pelakunya, justru PNS yang membangkang.
Jangan ditunda-tunda, saatnya sekarang Negara melalui Kemendagri, Aparatur Negara, kemendiknas, dan Kemenag berani menindaknya. Sekali lagi, masalah ini sudah serius dan tak bisa dianggap remeh. Selamat Menindak.
Ketika saya tanya sama guru yang mengajar di sekolah negeri, ternyata di beberapa sekolah juga serupa. Menurut teman saya yang juga kebetulan PNS, di sekolah tempat ia mengajar, ada juga guru PNS yang aktif di organisasi anti Pancasila dan NKRI. Saya mencoba terus menyisir data. Ternyata di daerah saya, PNS yang aktif di organisasi anti Pancasila dan NKRI, sudah mulai merasuk ke pelosok, termasuk ke kepulauan.
Suatu hari saya menulis status iseng di group facebook, “setujukah Anda sama PNS yang aktif di organisasi anti Pancasila dan NKRI, sementara ia memperoleh gaji dari sini?”
Namanya facebooker, bukan serius menjawab malah di suruh “deportasi”. Ada yang bilang suruh dipecat. Tapi hampir semua facebooker yang menulis komentar sepakat, menolak PNS yang terlibat di organisasi anti-Pancasila dan NKRI.
Saya menghubungkan dengan gaji mereka, karena saya tahu rata-rata mereka ketika kampanye penolakan terhadap Pancasila dan NKRI seringkali mengunakan rujukan Al-Qur’an-Hadits. Tetapi mereka lupa, bahwa gaji yang mereka peroleh justru dari system yang mereka tolak. Aneh luar biasa. Yang bahaya menurut saya, justru dari gaji yang mereka peroleh sebagian mereka gunakan untuk mengkampanyekan terus gerakan anti Pancasila dan NKRI.
Masalah yang Lebih Serius
Yang membuat saya prihatin, PNS yang aktif di organisasi anti Pancasila dan NKRI berprofesi sebagai guru. Dan saya percaya, ketika melangsungkan proses pembelajaran mereka tidak sekedar menyampaikan mata pelajaran yang diampuhnya, tetapi juga menyelipkan ideologinya. Apalagi guru penentang Pancasila dan NKRI ini memang guru Agama. Makin leluasa dia dalam menyelipkan dan menanamkan ideologinya kepada siswa dasar dan menengah.
Jangankan menjadi guru agama, memegang materi “ umum” pun tidak menutup peluang bagi mereka untuk menanamkan ideologinya. Pernah sebuah madrasah swasta di daerah saya dengan tegas mengembalikan guru bantu Bahasa Inggris ke kemenag, karena guru tersebut ternyata tidak mengajarkan bahasa inggris, tapi di kelas malah lebih banyak menanamkan ideologinya yang berseberangan dengan paham moderat yang dianut madrasah tadi. Untunglah ada madrasah yang tegas. Tetapi bagaimana dengan sekolah dan madrasah negeri/swasta lainnya yang tidak tegas?
Bagi saya masalah ini cukup serius. Saya tidak pernah membayangkan, kalau kasus ini terus berlangsung dan semakin besar, bukan tidak mungkin suatu saat, Pancasila dan NKRI justru ditikam dari ruang kelas. Nasionalisme dan kecintaan terhadap kebangsaan justru mati di lembaga pendidikan yang sejatinya harus menjadi jangkar. Korbannya justru anak-anak dan remaja yang kita harapkan menjadi bangsa ini dimasa depan. Dan pelakunya, justru PNS yang membangkang.
Jangan ditunda-tunda, saatnya sekarang Negara melalui Kemendagri, Aparatur Negara, kemendiknas, dan Kemenag berani menindaknya. Sekali lagi, masalah ini sudah serius dan tak bisa dianggap remeh. Selamat Menindak.
Sumber : edukasi.kompasiana.com

0 komentar:
Posting Komentar